Selasa, 13 Juli 2010

Akhirnya pulang

Seminggu sudah berakhir dan akhirnya bisa online lagi. Huft, demam berdarah,rumah sakit, dan dirawat diasana itu 3 hal yang baru aza gw alami. Itu juga kali pertama gw ngerasain yang namanya dirawat di rumah sakit dan mudah2an itu yang terakhir. Gw mw berbagi cerita sama temen blogger nieh. Selama seminggu ada banyak hal yang gw alami. Gw dirawat di sebuah kamar kelas satu di rumah sakit umum di daerah temepat tinggal gw. Biarpun kamar kelas satu tetapi tetap saja yang menghuni ada dua pasien. Tempatnya sejuk dengan fasilitas full AC. Selama seminggu tempat tidur sebelah saya berganti tiga kali orang yang berbeda. Makanya saya jadi agak riskan apalagi teman sekamar saya itu memiliki penyakit yang cukup mengerikan semuanya. hahah, bukan mengada2 tetapi itu memang ada. Saya akan menceritakan setiap teman perawatan saya itu.
Pasien 1, seorang bapak yang mengidap sakit mag kronis yang menurut hasil pengamatan saya itu disebabkan stressnya si bapak itu akibat beban kehidupan yang ia alami. Menurut tutur istrinya, mereka dulu hidup sangat layak dan serba berkecukupan. Bapak itu bekerja menjalankan usaha pamannya. Tak lama usaha pamannya itu gulung tikar alias bangkrut alahasil bapak itupun kehilangan pekerjaaannya. Tak lama kemudian juga bapak itu berganti profesi menjadi seorang supir angkutan umum dan dari sanalah mungkin pola hidup tidak sehat dan stress mulai melanda sang bapak. Dan bapak itupun akhirnya jatuh sakit dan dirawat bersama saya. Bapak itu sudah terlebih dahulu menghuni sehari sebelum saya masuk. Naasnya kondisi ekonomi yang tak memungkinkan membuat perawatan sang bapak terganggu. Karena menurut tutur istrinya,uang perawatan bapak itu berasal dari uang patungan saudara sekampungnya sehingga jumlahnya terbatas. Saat itu dokter ingin memeriksa keadaan lambung bapak itu dengan sebuah alat canggih yang mengharuskan pasien membayar fasilitas tersebut. Dari sanalah sang istri mulai kebingungan dan menghubungi saudaranya. Kebesokan harinya keluarga itupun memutuskan untuk membawa bapak itu pulang dengan terpaksa dan hasil peratwatan yang nihil.Dari pasien itu saya belajar kalau kita hidup pasti ada masanya sehingga kita harus selalu belajar menerima dan pantang menyerah menjalani kehidupan.
Pasien 2, Seorang bapak yang masuk rumah sakit karena sesuatu yang sangat tidak biasa. Bapak ini tersengat listrik saat sedang menjalankan pekerjaannya di sebuah pabrik pengecoran. Naasnya bapak ini terkena musibah itu saat ia hendak berganti sip pagi harinya. Tetapi tak disangka saat ia memegang lori yang saat itu kabarnya bersentuhan dengan mesin ia justru kena setrum. Sesaat setelah itu ia langsung dilarikan ke rumah sakit tempat saya dirawat. Nasib perawatan bapak ini berbeda dengan pasien sebelumnya, seluruh biaya perawatan ditanggung oleh perusahaan. Bapak inipun keluar setelah menjalani 3 hari masa perawatan. Dari pasien ke-2 ini saya dapat belajar kalau musibah itu memang dpat datang kapan saja sehingga kita harus selalu waspada dan berserah diri kepada yang maha kuasa.
Pasie 3, Seorang bapak juga namun paling tua diantara sebelum2nya. Bapak kelahiran tahun 1941 ini mengidap penyakit komplikasi berupa gula darah(diabetes),darah tinggi(hipertensi),dan serangan jantung.Kabarnya bapak ini sudah dua kali dirawat disana. Bapak ini memiliki kepribadian yang menyenangkan. Walaupun sakit ia masih bisa menghibur orang-orang yang berada di sekitarnya. Pada awal masuk bapak ini menggunakan bantuan oksigen sehingga hal itu membuat saya berpikir kalau sakit bapak ini sudah sangat parah. Tetapi setelah keadaan bapak itu membaik pemikiran itu sirna. Si bapak yang tadi hanya terbujur lemas sekarang dengan tingkahnya tidak jarang membuat orang di sekitarnya terbahak. Apalagi ketika ia bersikeras mengaku sudah sembuh dan ingin pulang. Perawat yang menanganinya pun tak jarang tertawa lebar akibat tingkah bapak itu. Dari pasien ini saya belajar bagaimana menghadapi masa tua nanti yang pastinya akan lebih sulit ketimbang saat kita muda sekarang. Jadi, dari dia saya belajar memantapkan meangkahkan kaki di masa muda untuk menyongsong masa tua nanti. Untuk ketiga teman sekamar itu saya ucapkan terima kasih sehingga saya dapat lebih belajar mengenal hidup.

0 komentar:

Poskan Komentar